Wednesday, August 15, 2012

7 Pencipta Lagu-Lagu Nasional Indonesia

Hari Kemerdekaan Indonesia semakin dekat. Biasanya, di sekolah-sekolah pasti diadakan upacara bendera. Lagu-lagu nasional pun dikumandangkan. Terasa istimewa, karena tidak setiap minggu dilakukan hal semacam ini.
Bertambah usia, semakin jarang menyanyikan lagu-lagu nasional.
Apakah kamu masih ingat lagu apa yang biasa kamu nyanyikan? Atau siapa pencipta lagunya?
Inilah tujuh pencipta lagu nasional Indonesia yang sebaiknya kamu ingat sebagai bagian sejarah, jadi teruskan membaca.

1. Wage Rudolf Supratman

Nama ini pastinya dihafal seluruh penduduk Indonesia. Beliau adalah pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, lahir tahun 1903 dan wafat pada 1938.
Pertama kali, W.R.Supratman membaca surat kabar Fajar Asia yang menulis artikel, menantang pemuda Indonesia untuk membuat karya lagu kebangsaan yang dapat menggugah semangat rakyat. Lagu luar biasa ini pertama kali berkumandang di Gedung Indonesische Club, Jalan Kramat 106 Jakarta pada 28 Oktober 1928. Indonesia Raya dinyanyikan mengiringi naiknya Sang Saka Merah-Putih di tiang bendera.
Berkat jasanya ini, hari kelahiran W.R.Supratman tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional.

2. Kusbini

Beliau adalah pencipta lagu Bagimu Negeri yang menjadi lambang simbolis penandatanganan sumpah jabatan Presiden berikut jajarannya untuk berbakti pada negara. Lagu ini diciptakan atas permintaan Soekarno sebagai penyeimbang lagu-lagu propaganda Jepang yang saat itu tengah marak.
Ketika lagu Indonesia Raya dilarang Jepang berkumandang, maka Bagimu Negeri diputar sebagai gantinya. Untuk jasanya, Kusbini dianugerahi penghargaan Anugerah Seni dari Pemerintah. Beliau meninggal pada tahun 1991, di usia 85 tahun.

3. Cornel Simanjuntak

Pernah menyanyikan lagu Maju Tak Gentar, kan? Lagu yang memacu semangat ini ditulis oleh Cornel Simanjuntak. Tadinya, lagu ini berjudul Maju Putra-Putri Indonesia.
Ketika revolusi terjadi tahun 1945, lagu ini pun diubah judul dan syairnya agar lebih membakar semangat. Maju Tak Gentar berhasil menyulut psikologi pejuang Front Tentara Pelajar Yogyakarta. Lirik lagunya memang sesuai kondisi saat itu, di mana perlawanan dilakukan dengan peralatan seadanya.
Tahun 1961, Cornel Simanjuntak menerima piagam Saytya Lencana Kebudayaan, setingkat Bintang Gerilya.

4. Ismail Marzuki

Lagu Halo-Halo Bandung yang diciptakan sang maestro ini turut serta dalam perang merebut kembali Bandung dari tangan penjajah. Dari sana, setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai Bandung Lautan Api dan lagu ini tak pernah absen diputar.
Untuk Ismail Marzuki, meninggal tahun 1958, menciptakan banyak sekali karya lagu nasionalis. Namanya sangat familiar di Indonesia. Tak heran, berkat baktinya itu kepada negara, beliau menerima tanda jasa Bintang Budaya Parama Dharma dan piagam Wijaya Kusuma.

5. Bintang Sudibyo

Agak asing dengan nama di atas? Bagaimana kalau Ibu Sud? Ya, Bintang Sudibyo merupakan nama panjang Ibu Sud, seorang wanita pencipta sejumlah lagu nasionalisme. Salah satunya, Berkibarlah Benderaku yang terinspirasi dari kisah nyata.
Diceritakan, Ibu Sud menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana Yusup Rono Dipuro (seorang pelaku sejarah yang terlibat dalam rekaman teks proklamasi Indonesia) mempertahankan Sang Merah Putih untuk tetap berkibar di halaman kantor. Pada saat bersamaan, senjata-senjata api diarahkan padanya.
Ibu Sud menerima anugerah Bintang Budaya Paramadharma pada tahun 2007. Selain menulis lagu nasionalis, beliau juga menciptakan lagu anak-anak sekaligus seorang penyiar radio. Beliau meninggal tahun 1993 di usia 85 tahun.

6. Liberty Manik

Beliau memang seorang yang penuh talenta. Pemain biola, penyanyi, penyiar radio RRI Yogyakarta, penulis buku, jurnalis majalah, juga pencipta lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Lagu tersebut diciptakan Manik setelah melihat sendiri semangat perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan.
Pertama kali Satu Nusa Satu Bangsa diputar adalah melalui siaran radio tahun 1947, ketika agresi Belanda pertama. Karena baktinya ini, Liberty Manik mendapat anugerah bintang Budaya Paramadharma tahun 2007. Beliau meninggal tahun 2004, dalam usia 69 tahun.

7. Husein Mutahar

Jika mendengar lagu Syukur, apa yang kamu rasakan? Tidak sedikit yang begitu tersentuh sampai merinding. Lagu itu diciptakan oleh Husein Mutahar, sengaja dibuat untuk menyambut kemerdekaan Indonesia.
Husein Mutahar adalah tokoh utama pendiri gerakan Pramuka Indonesia. Beliau pula yang mempunyai ide Paskibraka, beranggotakan pelajar dari berbagai daerah. Beliau seorang mayor Laut ABRI, mempunyai tanda jasa Bintang Gerilya tahun 1948-1949. Pernah juga terlibat langsung dalam pertempuran ketika menyelamatkan bendera Pusaka dari tangan Belanda di Yogyakarta.
Husein Mutahar meninggal di usia 88 tahun.

-----------------------------

sumber: Klik Disini

No comments:

Post a Comment

Post a Comment